Februari 2009


Pada 18 September 1948
terjadi pemberontakan PKI di Madiun dipimpin Muso
Kami yang baru berusia 3 tahun merdeka, disaat konsentrasi menghadapi
penjajah, ditikam dari belakang oleh penghianatan PKI untuk pertama kalinya.
Berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, usaha itu gagal.

Tujuh tahun kemudian, disaat kami lengah, PKI keluar sebagai 4 besar dalam Pemilu 1955. PKI mulai menjalankan programnya dengan aksi-aksi sepihak
untuk mencapai cita-citanya. Pancasila ideologi negara dicoba diganti dengan paham komunis.

Pada 30 September 1965, terjadi pemberontakan PKI di Jakarta dipimpin DN.Aidit.
Disaat kami semua sibuk menjaga integritas negara, untuk kedua kalinya PKI melakukan penghianatan. Berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, usaha itu gagal.

Tiga puluh empat tahun kemudian, di era reformasi. Bayi PKI tidak lahir dan yang mirip bayinya pun tak meraih suara pada pemilu. Tapi kelakuan politik dan indikasi gerakan politiknya mulai terasa. Aksi sepihak memaksakan kehendak. Isu, fitnah dan provokasi merajalela.

Rakyat dimanipulasi, diagitasi dan diprovokasi untuk melaksanakan revolusi. Rakyat dipertentangkan dan diadu domba untuk menciptakan situasi yang mereka sebut kondisi revolusioner. Gerakan politiknya aksi sepihak memaksakan kehendak. Propagandanya menyebar isu, fitnah dan pemutarbalikkan fakta. Ciri khas komunis yang menghalalkan segala cara.

Waspada terhadap gerakan politik aksi sepihaknya. Jangan termakan propaganda, isu dan fitnahnya. Waspada terhadap program aksi perjuangan rakyat bersenjata. Jangan sampai terjadi penghianatan ketiga kalinya.
Waspadalah, jangan lengah..!

~G A R D A~ Mei 2001

Berlari…,
mengejar impian
menanti…,
biarkan aku menunggu hingga valentine’s tiba..

Tapi ternyata kau hanya bayang-bayang
yang tak mungkin ku miliki..,
dan bahagia bersamamu hanyalah mimpi
yang tak mungkin menjelma dalam hati
hingga di valentine’s ini
aku masih tetap sendiri..

(berbaringlah dengan damai kasih..)

Senja itu ketika mentari berarak ke barat
kutemui dirimu diam
terbaring kaku di atas pembaringan
tiada tawa dan senyuman manismu
(lebih…)

Tangismu malam ini..yg kau ungkap lewat telpon di kejauhan sana.., begitu menyiksa bathinku..
tawamu dan kelakarmu hilang..seperti apa yg ku dapat slama ini..,
“Pulanglah.. lihatlah aku terakhir kali..,”katamu..
“Datanglah.. berikan aku restumu..” itu pintamu..
Tak banyak kata yg mampu ku ucapkan tangiskupun tenggelam dan menyatu dgn tangisanmu.. (lebih…)