Tidak dapat disangkal bahwa keadilan, dalam segala aspeknya, merupakan dambaan setiap individu dan masyarakat. Karena itulah semua agama mengajarkannya, bahkan memerintahkan manusia berlaku adil, meskipun terhadap dirinya sendiri.

Ada yang berpandangan bahwa berbuat baik dengan jalan mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan pihak lain atau membalas kejahatan dengan kebaikan lebih tinggi nilainya daripada keadilan. Pandangan ini benar dalam hubungan antar individu, namun keliru dalam kehidupan bermasyarakat.

Salah satu sila dari asas kehidupan bermasyarakat adalah keadilan, sedangkan sikap berbuat baik yang melebihi keadilan seperti berbuat baik terhadap mereka yang bersalah akan dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Itulah sebabnya Nabi menolak pemberian maaf bagi seorang pencuri setelah diajukan ke Pengadilan, walaupun pemilik harta yang dicuri memaafkannya. “Seharusnya pemaafan itu engkau berikan sebelum tertuduh diadili,” kata Nabi.

Keadilan harus ditegakkan, kalau perlu dengan tindakan tegas. Kitab Al-Qur’an menggandengkan “timbangan” alat ukur yang adil dengan “besi” yang digunakan sebagai senjata sebagai isyarat bahwa senjata adalah salah satu cara atau alat untuk menegakkan keadilan (baca QS. 57:25)

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan menegakkan keadilan dan memelihara perdamaian, melakukan jasa-jasa baiknya dibanyak negara. Sayangnya, berbagai upaya PBB kerab mengalami kegagalan. Dari kegagalan tersebut dimanfaatkan tentara sekutu dibawah pimpinan AS dengan mengatasnamakan PBB melakukan tindakan-tindakan tegas yang mengakibatkan pecahnya perang. Setelah perang Irak dan Afganistan, sekutu yang juga masih mengatasnamakan lembaga dunia itu, menerapkan syarat-syarat bahkan tindakan-tindakan yang dinilai oleh sementara pihak sebagai telah melampaui batas kewajaran dan keadilan.

Bukan sisi politis atau militer yang ingin dikemukakan topik ini, bukan pula perselisihan antara Negara Timur Tengah dan Amerika, apalagi antara pribadi Bush dan Pemimpin Negara Gurun Pasir. Yang ingin di angkat dalam topik ini adalah nilai-nilai Al-Qur’an yang berkaitan dengan keadilan yang diharapkan dapat menyinari sikap hidup kita, khususnya dalam menghadapi atau menilai sebuah kasus.

Apabila dua kelompok mukmin berselisih, maka lakukanlah ishlah (perdamaian) antara keduanya. Bila salah satu dari kedua kelompok itu membangkang maka perangi (ambil tindakan tegas) terhadap yang membangkang, sehingga menerima ketetapan Allah (ishlah) (QS. 49:9)

Akan tetapi jika ia (kelompok yang membangkang itu) telah kembali (taat) maka lakukanlah perdamaian dengan adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Sungguh tepat menggandengkan perintah mendamaikan pada lanjutan ayat ini dengan “keharusan berlaku adil”. Karena walaupun keadilan dituntut dalam setiap sikap sejak dari awal proses perdamaian, tetapi sikap itu lebih dibutuhkan lagi bagi para juru damai setelah mereka terlibat dalam tindakan yang tegas terhadap kelompok pembangkang. Sebab, dengan tindakan tersebut, besar kemungkinan ia pun mengalami kerugian, baik harta, jiwa, atau paling tidak harga diri akibat ulah para pembangkang.

Keadilan seperti itulah yang seringkali kabur di celah aktivitas manusia walaupun dengan dalih mengupayakan perdamaian.