Membaca coment para sahabat dalam postinganku sebelumnya, betapa hatiku sangat tersentuh dan terharu. Ajakan untuk bangkit dari keterpurukan dan tetap semangat dalam menghadapi segalanya membuat keyakinanku bertambah bahwa semua memang ujian Allah. Dan aku tidak akan pernah berhenti untuk berdoa, seperti para Nabi-nabi kita yang senantiasa berdoa dan aku percaya bahwa doa adalah senjata orang beriman yang tak mungkin dikalahkan oleh sekuat apa pun musuh. Doa tak hanya melahirkan optimisme dan harapan, tapi juga mengokohkan langkah dan rencana.

Ketika seorang mukmin tak memiliki apapun, doa bisa menjadi pupuk bagi keimanannya. Doa bisa menjadi bahan bakar bagi semangatnya. Kaidah inilah yang menjelaskan, walaupun telah mendapat jaminan ampunan dan pertolongan dari Allah, para Nabi tetap melantunkan doa.

Misalnya, ketika melanggar larangan Allah dan diturunkan ke bumi, Nabi Adam berdoa, “Y a Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi,” (QS al-A’raf:23).

Begitupun Nabi Nuh. Ketika mendapatkan anaknya tenggelam dalam banjir besar, ia pun berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya,” (QS Huud:45).

Saat menghadapi kaumnya yang tak mau dinasehati, Nabi Luth pun berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan,” (QS al-Ankabut:30).

Nabi Ibrahim tidak ketinggalan. Ketika bapak para Nabi ini begitu berharap agar keturunannya menjadi orang-orang yang taat, Ibrahim pun berdoa, Ya Allah, jadikan aku dan anak cucuku orang-orang yang mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku,” (QS Ibrahim:40).

Lihat juga Nabi Zakaria. Ditengah usianya yang senja, ia tak pernah putus asa berdoa agar dikaruniai keturunan. “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku,” (QS Maryam:4)

Dengar juga doa Nabi Ya’kub ketika kehilangan putranya, Yusuf, dengan penuh ketulusan Ya’kub berdoa, “Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya,” (QS Yusuf:18)

Begitu juga Nabi Yusuf, ketika diangkat menjadi pembesar Mesir, dia melantunkan doa, “YaTuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku bersama orang-orang shalih,” (QS Yusuf: 101).

Nabi Musa pun demikian. Setelah membunuh salah seorang pengikut Fir’aun dan menjadi buronan kerajaan, ia pun melantunkan doanya, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,” (QS al-Qashash:21)

Simak juga doa Nabi Yunus ketika ia berada dalam perut ikan, “Tiada Tuhan selain Engklau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim,” (QS al-Anbiya’:87).

Demikian juga Rasulullah Saw. ketika mengetahui jumlah lawan pada perang Badar lebih banyak, Rasulullah Saw berdoa dengan khusyu’nya. Sambil menengadahkan kedua tangannya, beliau berdoa, “Ya Allah, tunaikanlah janji-Mu untukku. Ya Allah, jika Engkau kalahkan jumlah kami ini, Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini,”

Rasulullah Saw terus berdoa sampai selendangnya jatuh. Abu Bakar mengambilnya dan meletakkannya kembali di atas pundak Rasulullah Saw. “cukup wahai Rasulullah Saw. pasti Allah akan memenuhi janji-Nya untukmu,” ujar Abu Bakar. Tapi Rasulullah Saw terus berdoa. Pada banyak kesempatan, Rasulullah Saw selalu mewarnai ibadahnya dengan doa.

Begitulah para Nabi. Begitu juga para sahabat. Baik dalam keadaan senang maupun susah, mereka tetap melantunkan doa. Jika para Nabi saja selalu melantunkan doa, apalagi kita, seharusnya!

Ya. Kita harus berdoa. Dibalik segala kesempurnaan kita sebagai manusia, kita mempunyai berbagai kekurangan. Kita makhluk lemah. Kita memerlukan bantuan Allah. Apalagi di tengah konspirasi musuh yang semakin menggila. Apalagi di tengah badai fitnah yang kian deras menerpa. Hanya doa yang mampu membuat kita kuat menghadapi musuh sebesar apapun. Hanya doa yang mampu membuat kita bertahan.

Kelemahan kita adalah kekurangan kita. Kekurangan kita adalah ketergantungan kita. Kita tergantung kepada bantuan Allah. Ketergantungan kita adalah bahasa lain dari keharusan kita berdoa kepada Allah. Dengan mengadu kepada Allah, kita telah mengadu kepada Zat yang sebenarnya paling tulus menerima pengaduan. Allah SWT telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Allah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran,” (QS al-Baqarah:186). Mari kita berdoa.