Setiap berita mengandung salah satu dari dua alternatif, benar atau dusta. Apabila kebenaran saja yang boleh dibicarakan atau disampaikan, maka tidak setiap fakta dapat dijadikan berita. Kebenaran biasanya tidak hanya terdiri dari satu fakta, melainkan beberapa fakta yang saling terkait. Pemberitaan yang terdiri dari hanya sebuah fakta yang benar sekalipun, biasanya menyesatkan. Apabila kalau sudah diintervensi dengan pandangan yang subjektif.

Allah telah memerintahkan untuk tabayyun atau klarifikasi bukan saja kepada Rasulullah sebagai Kepala Negara, tapi juga kepada seluruh warga negara, khususnya kepada orang-orang yang beriman. Itu dikarenakan betapa banyaknya keputusan-keputusan strategis seharusnya bersumber atau dimonitor oleh masyarakat atau wakil-wakil mereka di badan legislatif.
Dengan makin merebaknya pers cetak, yang kemudian juga didukung oleh kecanggihan teknologi audio visual, maka kekhawatiran terhadap usaha-usaha pembodohan masyarakat dengan perekayasaan opini publik makin meningkat. Patut, jika para pemikir demokrasi mengoreksi dan mengkaji ulang berbagai pemikiran demokrasi, walaupun demokrasi dalam artian ‘tidak tirani’ merupakan sesuatu yang sangat diperintahkan Islam. Pertanyaan yang mencuat saat ini ialah, “apakah sebuah partai yang memperoleh suara terbanyak dalam pesta demokrasi, benar-benar karena telah didukung oleh pendapat mayoritas yang secara sadar menentukan pilihan politisnya?. Apakah bukan dukungan tersebut, hanyalah akibat dari perekayasaan opini umum yang amat lihai, dengan memperalat fakta-fakta yang terpotong-potong?.

Politik di alam sekuler menghalalkan segala cara. Namun Allah telah memperingatkan orang-orang yang beriman untuk tabayyun dalam menerima informasi, serta jujur dalam menyatakan pendapat dan pilihan. Jujur bukan hanya terhadap diri sendiri dan masyarakat, tetapi juga yang terpenting terhadap Allah.
“Sesungguhnya, bahwasa-nya pendengaran, penglihatan serta pemikiran dan inisiatif; akan diminta darimu seluruhnya oleh Allah pertanggungan jawab di hari kemudian.” (Q.S. 17:36)
Tidak ada fakta yang lebih kuat bagi anda ketimbang yang anda dengar dan anda lihat sendiri. Namun harus pula diadakan tabayyun, karena sebuah fakta belum berarti sebuah berita, apalagi merupakan suatu kebenaran.

Mencoblos pada saat PEMILU, menurut Islam bukanlah hak bagi seorang muslim, melainkan kewajiban yang dilakukan demi mendapat ridha Allah dalam rangka mewujudkan Pemerintah yang tidak tirani. Mencoblos dalam kondisi tersebut merupakan “kesaksian” yang harus diberikan apabila diminta. Partai manakah yang lebih aspiratif?. Siapakah yang lebih diridhai Allah kepemimpinannya?. “janganlah sekali-kali mereka yang patut melaksanakan kesaksian, bersikap enggan memberikannya bila diminta.” (Q.S. 2:282). “Berikanlah kesaksian yang diridhai Allah.” (Q.S. 65:2). Sudah pasti Allah tidak akan meridhai kesaksian yang tidak melalui proses tabayyun; karena hanya merupakan sebuah kepalsuan belaka.

Bahaya yang perlu dicermati ialah bahwasanya rakyat, yang menurut pandangan demokrasi sebagai pemilik kedaulatan yang tertinggi, biasanya tidak menerima fakta sebagaimana adanya, melainkan sesudah dimanipulasi dan direkayasa secara canggih sebagai fakta yang sempurna. Pengungkapan rasa khawatir yang keterlaluan, boleh jadi sebuah provokasi. Menyatakan rasa simpatik dan kasihan yang berlebihan, jelas-jelas merupakan propoganda yang terselubung. Kesemuanya itu menjadikan tabayyun sangat diperlukan di arena panggung politik khususnya. Ketika kemeranaan Yahudi Eropa didramatisir sedemikian rupa, terbentuklah luapan emosional yang tak terkendali dan stereotip di masyarakat luas, yang membuat Dunia Barat merasa terus-menerus terbebani dosa yang tak termaafkan. Kenyataan inilah yang membuat Dunia Barat tak berdaya di hadapan pelanggaran orang-orang Yahudi terhadap hak-hak Islam dan Kristen di Timur Tengah.

Rasul SAW, wanti-wanti berpesan untuk hati-hati dalam menerima informasi, menyerap dan menggulirkannya kembali dalam sebuah kesaksian; karena boleh jadi akan menjelma sebagai publik opini yang mempengaruhi perjalanan hidup bangsa. Andaikan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, karena umat tidak dipersiapkan oleh para pemimpinnya untuk tabayyun dalam hal-hal yang strategis, seperti memilih pemimpin umpamanya; maka tak ada yang perlu disalahkan, kecuali diri mereka sendiri. Dalam sebuah statement universal yang berkaitan dengan kehidupan berpolitik, Rasul SAW bersabda, yang artinya, “Sebagaimana kamu, demikian itulah Presiden kamu”