sepintas apabila kita mendengar aksi unjuk rasa atau demontrasi, maka yang terbayang pertama sekali dalam benak kita adalah aksi-aksi para mahasiswa dan kaum buruh. kedua unsur tersebutlah yang selama ini mewarnai aksi-aksi unjuk rasa demi menentang ketidak adilan dinegeri bertuah ini. bukan tanpa alasan atau sekedar mencari sensasi, tapi apa yang dilakukan oleh mereka lebih kepada membela kepenting rakyat yang pada gilirannya juga membela kepentingan negara, karena kepentingan negara adalah nama lain dari kepentingan rakyat. permasalahannya kemana para wakil rakyat ketika ketidak adilan melanda rakyat yang diwakilinya…?

banyak yang tidak mengerti konotasi dari kata “wakil”. wakil adalah adalah sosok yang hanya bertugas menggantikan orang yang diwakili, menyampaikan apa yang ingin dikatakan oleh orang yang diwakili, menuntut apa yang diinginkan oleh orang yang diwakilinya. berbicara dengan suara orang yang diwakilinya.

namun pada kenyataannya, wakil rakyat justru masih beranggapan kehadirin mereka di parlemen adalah merupakan bagian dari institusi pemerintah. sehingga dengan sendirinya sadar atau tidak sadar telah meletakkan posisi mereka sebagai wakil dari pemerintah.

mengapa harus mahasiswa yang turun ke jalan…? kemana rakyat yang merasa ditindas…? sebuah gambaran yang selama ini tidak pernah dipertanyakan dan tidak pernah dipersoalkan. rakyat mungkin terlalu manja kepada mahasiswa dan hanya berharap mahasiswa dapat menentang melalui aksi-aksi mereka. tapi kemana rakyat yang mungkin beberapa tahun lalu juga pernah menjadi mahasiswa dan kemungkinan juga pernah turun ke jalan demi menentang kebijakan yang tidak pro rakyat…? nampaknya dalam hal ini semboyan TNI berlaku “patah tumbuh hilang berganti”, mahasiswa yang dulu telah diganti dengan mahasiswa yang sekarang dan tanggungjawab menetang ketidakadilan dialihkan kepada yang sekarang ini. namun apapun jawaban dari pertanyaan diatas yang jelas fakta memang membuktikan bahwa aksi unjuk rasa tidak akan pernah lepas dari wajah para mahasiswa.

pemerintah sendiripun akan mempertimbangankan hal tersebut, ketika akan melakukan kebijakan-kebijakan yang akan mengorbankan rakyat akan melirik para mahasiswa terlebih dahulu, bukan pada rakyatnya. asumsi sedemikian cukup masuk akal, karena rakyat bagaimanapun demi untuk menutupi kebutuhan hidup akan dengan terpaksa menerima semua itu. sementara mahasiswa akan melihat keseluruhan itu dari kaca mata intelektualnya.

namun bagaimanapun upaya mahasiswa, kebijakan pemerintah tidak akan pernah kendur. karena mengorbankan rakyat lebih mudah dari pada mengorbankan pengusaha. belum pernahkan pengusaha unjuk rasa…? itu jelas karena pengusaha belum perah dirugikan atas kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah. dan mayoritas dari wakil rakyat tersebut adalah dari kalangan pengusaha.

dari kacamata pemerintah aksi unjuk rasa mahasiswa itu hanyalah insiden kecil, pemerintah cukup menurunkan polisi untuk mengatasinya. konon lagi dalam melakukan tindakan antipasi dari perbuatan anarkis, polisi kerab melakukan tindakan diluar batas. sejarah telah membuktikan untuk menghadapi hal-hal seperti itu mesti ada korban jiwa dan pemerintah sedang menunggu jatuhnya korban tersebut.

sepertinya untuk meningkatkan pendapatan negara dan menutupi utang negara akibat ulah para pengusaha nakal rakyat harus menanggulanginya, padahal tanggungjawab negara adalah meningkatkan tarap kesejahteraan rakyat. tapi apa lajur, rakyat justru belum diberi kesempatan untuk mensejahterakan dirinya, tetap tidak diberi kesempatan untuk meningkatkan daya belinya. Wapres Jusuf Kalla menyatakan akan segera menguncurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat miskin. sadarkah wapres tersebut…? mungkin wapres keliru dalam mengkalkulasikan perhitungan antara pengeluaran dengan pendapatan rakyat terutama rakyat yang masih berada dibawah garis kemiskinan. seberapa persen pun kenaikan BBM (menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas idealnya 30%) akan membawa dampak ikutan yang luar biasa. belum lagi mencapai akhir bulan Mei bulan dimana akan diberlakukan harga baru terhadap BBM harga-harga sudah mulai menggila, tarif angkutan mulai melonjak, minyak mulai hilang dipasaran. tingkat inflasi akan melambung tinggi, cukupkah uang seratus ribu dapat menutupi tingkat inflasi yang terjadi..? hanya minyak sajakah yang akan ditutupi dan jadi beban pikiran rakyat…? bagaimana perhitungan pemerintah terhadap angka-angka tersebut..? atau mungkin angka-angka ini hilang dalam kalkulator penguasa negeri ini.

dalam pengucuran BLT juga akan terjadi permasalahan luar biasa, seperti dikatakan Menkeu Sri Mulyani, penerima dana BLT adalah keluarga miskin yang sesuai dengan data tahun 2005. ini berarti keluarga miskin baru yang muncul ditahun 2006, 2007 dan 2008 tidak akan kebagian dana tersebut.

sebahagian rakyat mungkin pasrah dengan keadaan yang terjadi sembari mengumam kapan pemerintah akan berpihak kepada rakyatnya…? kapan akan mendapatkan pemimpin yang pro rakyat…? tapi sebahagian akan menyesali diri sendiri, salah kita juga memilih pemimpin yang akhirnya menekan rakyat.

pemerintah mungkin ada benarnya. dalam mengelola negara ini pemerintah bertanggungjawab dalam peningkatkan pendapatan negara. akan tetapi dalam menjaring pendapatan negara tersebut bukanlah dengan mengorbankan kesejahteraan rakyatnya. lantas solusinya bagaimana…? silakan berdialog di senayan disana sudah ada wakil dari rakyat, yang mungkin sedang membutuhkan pembelajaran dari rakyat yang diwakilinya.