adinda…,

jatuh tersungkur itu adalah sakit,

sebab merah dan berdarah…,

melayang dari asa itu adalah patah,

sebab luka dan kecewa…,

andinda…,

namun engkau bukanlah batu yang membuat langkahku tersandung,

langkah yang merah dan menyala..,

namun engkau bukanlah mimpi yang menjatuhkanku,

karena padamu harapanku ada…,

adinda…,

engkau adalah hujan yang memberi warna indah di masa kanak-kanakku,

yang mengguyur tubuhku, telanjang.., dingin…, klimaks kebahagiaanku,

engkau juga bagaikan setetes air yang dapat menyejukkan setiap tenggorokkan makhluk di bumi ethiopia sana…,

atau….,

hanya sebuah hayalan…?

adinda…,

aku ingin menyertakan kamu disetiap sudut pandangku..,

ku ingin kau ada di ujung telunjukku saat kuperintahkan “HENTIKAN KEMUNAFIKKANMU”

kupinta tetaplah bersamaku ketika pelita itu mati tertiup angin

kau datang dengan cahayamu..,

kuharap beradalah dalam benakku saat kubutuh inspirasi,

sebab kau manis bagai permen bagiku,

namun adinda…,

debu jalanan ini membuat mataku perih tuk terus memandangmu..,

gerimis ini membuat tubuhku meriang

dan menghalangi pandanganku

hingga bayanganmu semakin kabur dan cintaku tinggal sedikit lagi untukmu,

sebab kau hanyalah sahabatku bukan pacarku,

jika kau mau ikutlah mimpiku..,

kita tulis tentang alam ini,

dan kita kalahkan gelombang tsunami itu dengan kasih sayang kita.